AJR – Atma Jaya RadioAtma Jaya Radio

         

Review Film: Dua Garis Biru. Bercampurnya Tawa dan Tangis

Sobat Atma bagaimana kabarnya??, lama tidak bersua. Kali ini ada satu film yang sangatt menarik untuk dibahas jadi daripada berlama – lama yok langsung aja kita meluncur!!!!.

Film itu adalah Dua Garis Biru. Film ini ditulis oleh Gina S Noer yang sekaligus menjadi sutradara dari film ini. Diproduksi oleh rumah produksi Starvision dan dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris papan atas di Indonesia dengan Angga Yunanda dan Zara JKT48 sebagai lead, film ini membawa dampak yang cukup signifikan pada perfilman Indonesia, tidak hanya soal tema cerita namun juga berbagai hal teknikal didalamnya.

Di sutradarai oleh Gina S Noer dan dibintangi oleh Angga Yunanda dan Zara JKT48. Dua Garis Biru menjadi salah satu film yang dinanti di tahun 2019 ini.
Foto didapatkan di Google.

Sebenarnya tulisan ini dibuat sangat personal bagi penulis, karena sejak teaser pertama keluar beberapa bulan yang lalu penulis langsung terpikat dengan tone dan visual yang diangkat di film ini. Sehingga beberapa kali walau waktu itu baru berupa teaser penulis sudah menjadikan film ini sebagai bahan kajian di beberapa kelas kuliah penulis. Mengesampingkan hal itu tadi nyatanya film ini memang layak ditunggu dan disaksikan.

Bercerita tentang sepasang kekasih Bima dan Dara, pasangan yang diceritakan berasal dari keluarga baik-baik yang dicintai oleh teman-teman mereka dan juga keluarga mereka. Namun mereka membuat satu “kesalahan” , ya satu kesalahan yang sangat besar yang berakibat pada konsekuensi yang sangat sulit. Premis yang tidak biasa untuk film Indonesia, premis ini yang pada awalnya membuat film ini menemui sebuah kontroversi yang sebenarnya tidak diperlukan. Mendengar premisnya dan juga melihat teaser awalnya memang pasti orang-orang akan langsung beranggapan bahwa film ini menghadirkan adegan “kesalahan” yang dilakukan oleh kedua tokoh utama pada film ini yang ditakutkan nantinya ditiru oleh remaja yang mana merupakan target utama film ini. Namun kontroversi tersebut perlahan hilang dengan tayangnya film ini pada 11 Juli yang lalu dan saat artikel ini ditulis sudah menembus 2,5 juta penonton.

Sempat mengundang kontroversi karena premis yang dibawanya, nyatanya film ini tidak menitik beratkan ceritanya pada adegan “kesalahan” 2 tokoh utamanya seperti yang dikontroversikan.
Foto didapatkan di Google

Patut diapresiasi bagaimana Gina S Noer menyutradarai film ini. Kita tidak perlu lagi mempertanyakan reputasi Gina S Noer dalam menulis Script namun sebagai sutradara debutan meng-handle film dengan tema seberat ini tentunya bukan hal yang mudah. Gina mampu membangun adegan demi adegan dengan pace yang sangat bagus dengan penempatan adegan yang efektif. Film ini dibuka dengan sequence yang memperlihatkan hubungan Bima dan Dara hingga mereka melakukan kesalahan itu diambil dengan pace yang cepat dan ditempatkan sebelum judul merupakan keputusan yang sangat baik karena dapat memfokuskan isi film tersebut pada dampak dari “kesalahan” yang dilakukan oleh kedua tokoh utama yang mana adalah tema utama dari film ini. Jadi film ini dari awal sudah menunjukan bahwa film ini berfokus pada dampak dari “kesalahan” daripada proses terjadinya “kesalahan” yang dilakukan oleh kedua tokoh utama itu sendiri.

 Film ini juga menghadirkan scene yang sangat emosional, yaitu scene UKS. Bagi yang sudah menonton pasti tahu bagaimana intensnya emosi yang terdapat di scene itu dan Gina S Noer dapat meng-capture scene yang sangat emosional itu dengan tehnik one take  sehingga menyebabkan sebuah scene yang begitu dinamis, dynamic dan juga klimatik. Ending dari film ini menjadi point yang paling penulis sukai, biasanya film Indonesia memiliki ending naratis yang menjabarkan akhir dari suatu film dengan gamblang. Apa yang terjadi dengan tokohnya?, apa mereka bahagia atau tidak dan segala macam. Namun Ending film ini yang seakan dibuat “menggantung” membuat film ini memiliki feel penyelesaian yang agak berbeda karena kita tidak menjabarkan nasib tokoh. Dimana ini justru membuat pesan utama film ini yang mana mengajak agar para remaja untuk tidak melakukan “kesalahan” yang dilakukan oleh kedua tokoh utama ini tersampaikan. Karena “kesalahan” itu tidak akan menyebabkan akhir yang bahagia, namun film ini diakhiri dengan bijak. It’s not a happy ending but it’s a wise ending. A perfect ending for this movie.

Scene UKS, merupakan salah satu Scene paling apik dalam sejarah perfilman Indonesia. Gina S Noer dengan luar biasa meng-capture sebuah scene yang sangat emosional dengan apik.
foto didapat di Google.

Selain opening, klimaks dan ending yang dibangun secara apik. Film ini juga banyak berisikan metafora-metafora yang secara tidak langsung menjabarkan film ini. Karena tidak semua Bahasa visual harus didialogkan maka metafora-metafora ini sangat manis untuk ditonton. Metafora yang paling penulis suka adalah keberadaan ondel-ondel biru yang nantinya meng-foreshadowing sesuatu yang penting dalam film ini.

Ondel-ondel biru, salah satu metafora yang terdapat di film ini. Membuat film ini semakin menarik untuk di tonton.
foto didapatkan di Google.

Angga Yunanda dan Zara JKT48 juga mengeluarkan kemampuan terbaik dalam film ini. Angga Yunanda berangkat dari aktor yang bermain di beberapa film diantaranya Sunyi dan Tabu yang sama-sama dikeluarkan oleh Starvision, disini bisa memerankan Bima dengan baik dimana Angga Yunanda dapat mengeluarkan aura remaja yang disatu sisi naif namun disisi lain mencoba untuk menyelesaikan masalah yang tidak sengaja dia buat ini. Mungkin perlu diapresiasi lebih untuk Zara JKT48 karena memerankan gadis hamil itu tidaklah mudah dan juga dapat memerankan seorang gadis yang pintar, kuat namun masih memiliki kenaifan remaja dalam dirinya. Supporting aktor lain seperti Lulu Tobing, Dwi Sasono, Rachel Amanda, Cut Mini dan Arswendi Bening Swara dapat membantu dalam membangun atmosfer film ini dengan baik. Kombinasi lead dan supporting aktor yang baik seperti ini membuat adegan demi adegan terasa lebih hidup.

Para Aktor dan Aktris yang terlibat didalamnya benar-benar membuat film ini menjadi semakin menarik untuk di tonton.
Gambar didapatkan di Google.

Terakhir. Film ini adalah sebuah film yang patut untuk ditonton, patut untuk diancungi jempol dan patut untuk dibanggakan karena film ini adalah salah satu tinta emas di industri perfilman Indonesia. Pesan moralnya disampaikan dengan sangat baik, adegan demi adegannya dibangun dengan sangat baik, menyuguhkan acting yang memukai dari para aktor dan aktris yang bermain didalamnya dan juga menyuguhkan ending yang bijak bagi para karakternya.

Dua Garis Biru adalah film remaja yang luar biasa. Sarat akan makna dan moral. Sangat menarik untuk ditonton bahkan sampai berulang kali. Menguras perasaan dan juga membuat kita sadar akan pentingnya sex education bagi anak-anak dan Remaja agar cerita Dara dan Bima tidak lagi terulang di dunia nyata.
Foto didapatkan di Google

Terima Kasih.

Yudha Setya Nugraha

   

Comments are closed.