WordPress database error: [Specified key was too long; max key length is 1000 bytes]CREATE TABLE wp_ajr_esf_youtube_cache (
id bigint(20) UNSIGNED NOT NULL AUTO_INCREMENT,
cache_key varchar(255) NOT NULL,
cache_data longtext NOT NULL COMMENT 'Compressed JSON data',
cache_type enum('account','feed','api') DEFAULT 'feed',
feed_id bigint(20) UNSIGNED DEFAULT NULL COMMENT 'Feed ID for feed-scoped cache',
account_id bigint(20) UNSIGNED DEFAULT NULL COMMENT 'Account ID for account-scoped cache',
expires_at datetime NOT NULL,
created_at datetime NOT NULL,
PRIMARY KEY (id),
UNIQUE KEY cache_key (cache_key),
KEY expires_at (expires_at),
KEY cache_type (cache_type),
KEY feed_id (feed_id),
KEY account_id (account_id),
KEY cache_key_expires (cache_key, expires_at)
) DEFAULT CHARACTER SET utf8mb4 COLLATE utf8mb4_unicode_520_ci
Film itu adalah Dua Garis Biru. Film ini ditulis oleh Gina S Noer yang sekaligus menjadi sutradara dari film ini. Diproduksi oleh rumah produksi Starvision dan dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris papan atas di Indonesia dengan Angga Yunanda dan Zara JKT48 sebagai lead, film ini membawa dampak yang cukup signifikan pada perfilman Indonesia, tidak hanya soal tema cerita namun juga berbagai hal teknikal didalamnya.

Sebenarnya tulisan ini dibuat sangat personal bagi penulis, karena sejak teaser pertama keluar beberapa bulan yang lalu penulis langsung terpikat dengan tone dan visual yang diangkat di film ini. Sehingga beberapa kali walau waktu itu baru berupa teaser penulis sudah menjadikan film ini sebagai bahan kajian di beberapa kelas kuliah penulis. Mengesampingkan hal itu tadi nyatanya film ini memang layak ditunggu dan disaksikan.
Bercerita tentang sepasang kekasih Bima dan Dara, pasangan yang diceritakan berasal dari keluarga baik-baik yang dicintai oleh teman-teman mereka dan juga keluarga mereka. Namun mereka membuat satu “kesalahan” , ya satu kesalahan yang sangat besar yang berakibat pada konsekuensi yang sangat sulit. Premis yang tidak biasa untuk film Indonesia, premis ini yang pada awalnya membuat film ini menemui sebuah kontroversi yang sebenarnya tidak diperlukan. Mendengar premisnya dan juga melihat teaser awalnya memang pasti orang-orang akan langsung beranggapan bahwa film ini menghadirkan adegan “kesalahan” yang dilakukan oleh kedua tokoh utama pada film ini yang ditakutkan nantinya ditiru oleh remaja yang mana merupakan target utama film ini. Namun kontroversi tersebut perlahan hilang dengan tayangnya film ini pada 11 Juli yang lalu dan saat artikel ini ditulis sudah menembus 2,5 juta penonton.

Patut diapresiasi bagaimana Gina S Noer menyutradarai film ini. Kita tidak perlu lagi mempertanyakan reputasi Gina S Noer dalam menulis Script namun sebagai sutradara debutan meng-handle film dengan tema seberat ini tentunya bukan hal yang mudah. Gina mampu membangun adegan demi adegan dengan pace yang sangat bagus dengan penempatan adegan yang efektif. Film ini dibuka dengan sequence yang memperlihatkan hubungan Bima dan Dara hingga mereka melakukan kesalahan itu diambil dengan pace yang cepat dan ditempatkan sebelum judul merupakan keputusan yang sangat baik karena dapat memfokuskan isi film tersebut pada dampak dari “kesalahan” yang dilakukan oleh kedua tokoh utama yang mana adalah tema utama dari film ini. Jadi film ini dari awal sudah menunjukan bahwa film ini berfokus pada dampak dari “kesalahan” daripada proses terjadinya “kesalahan” yang dilakukan oleh kedua tokoh utama itu sendiri.
Film ini juga menghadirkan scene yang sangat emosional, yaitu scene UKS. Bagi yang sudah menonton pasti tahu bagaimana intensnya emosi yang terdapat di scene itu dan Gina S Noer dapat meng-capture scene yang sangat emosional itu dengan tehnik one take sehingga menyebabkan sebuah scene yang begitu dinamis, dynamic dan juga klimatik. Ending dari film ini menjadi point yang paling penulis sukai, biasanya film Indonesia memiliki ending naratis yang menjabarkan akhir dari suatu film dengan gamblang. Apa yang terjadi dengan tokohnya?, apa mereka bahagia atau tidak dan segala macam. Namun Ending film ini yang seakan dibuat “menggantung” membuat film ini memiliki feel penyelesaian yang agak berbeda karena kita tidak menjabarkan nasib tokoh. Dimana ini justru membuat pesan utama film ini yang mana mengajak agar para remaja untuk tidak melakukan “kesalahan” yang dilakukan oleh kedua tokoh utama ini tersampaikan. Karena “kesalahan” itu tidak akan menyebabkan akhir yang bahagia, namun film ini diakhiri dengan bijak. It’s not a happy ending but it’s a wise ending. A perfect ending for this movie.

Selain opening, klimaks dan ending yang dibangun secara apik. Film ini juga banyak berisikan metafora-metafora yang secara tidak langsung menjabarkan film ini. Karena tidak semua Bahasa visual harus didialogkan maka metafora-metafora ini sangat manis untuk ditonton. Metafora yang paling penulis suka adalah keberadaan ondel-ondel biru yang nantinya meng-foreshadowing sesuatu yang penting dalam film ini.

Angga Yunanda dan Zara JKT48 juga mengeluarkan kemampuan terbaik dalam film ini. Angga Yunanda berangkat dari aktor yang bermain di beberapa film diantaranya Sunyi dan Tabu yang sama-sama dikeluarkan oleh Starvision, disini bisa memerankan Bima dengan baik dimana Angga Yunanda dapat mengeluarkan aura remaja yang disatu sisi naif namun disisi lain mencoba untuk menyelesaikan masalah yang tidak sengaja dia buat ini. Mungkin perlu diapresiasi lebih untuk Zara JKT48 karena memerankan gadis hamil itu tidaklah mudah dan juga dapat memerankan seorang gadis yang pintar, kuat namun masih memiliki kenaifan remaja dalam dirinya. Supporting aktor lain seperti Lulu Tobing, Dwi Sasono, Rachel Amanda, Cut Mini dan Arswendi Bening Swara dapat membantu dalam membangun atmosfer film ini dengan baik. Kombinasi lead dan supporting aktor yang baik seperti ini membuat adegan demi adegan terasa lebih hidup.

Terakhir. Film ini adalah sebuah film yang patut untuk ditonton, patut untuk diancungi jempol dan patut untuk dibanggakan karena film ini adalah salah satu tinta emas di industri perfilman Indonesia. Pesan moralnya disampaikan dengan sangat baik, adegan demi adegannya dibangun dengan sangat baik, menyuguhkan acting yang memukai dari para aktor dan aktris yang bermain didalamnya dan juga menyuguhkan ending yang bijak bagi para karakternya.

Terima Kasih.
Yudha Setya Nugraha
]]>
Henshin!!!!. Kamen Rider atau di Indonesia dikenal sebagai kesatria baja. Merupakan sebuah tontonan bergenre tokusatsu atau dalam bahasa Indonesia adalah tayangan dengan special Effect. Sudah ada sejak 1971 hingga kini sudah 48 tahun menghiasi pertelevisian Jepang. Sempat vakum beberapa tahun sampai akhirnya mereka comeback melalui serial Kamen Rider Kuuga pada tahun 2000 sekaligus mengawali masa Heisei Kamen Rider. Heisei sendiri merupakan nama dari era dimana kaisar Akihito berkuasa dijepang dari tahun 1989 sampai awal 2019 ini. Era sebelumnya saat kaisar Hirohito berkuasa disebut Showa dan mulai tahun 2019 ini Jepang memasuki era Reiwa karena kaisar Akihito akan digantikan anaknya, Kaisar Naruhito. Menutup era Heisei ini dengan serial anniversary Kamen Rider Zi-o. film Kamen Rider Heisei Generation Forever ini akan menjadi film layar lebar terakhir kamen rider pada era Heisei ini. Maka dari itu tak heran bahwa Toei selaku rumah produksi Kamen Rider begitu all out mengemas film kali ini.
Pada setiap musim gugur yang jatuh pada setiap desember di Jepang, memang serial Kamen Rider biasanya akan membuat movie vs. Dimana tokoh yang ada dalam serial terbaru akan bertemu dengan tokoh dari serial sebelumnya untuk melawan musuh tertentu. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak film kamen rider W x kamen rider Decade Movie War pada 2009 yang lalu. Bahkan sering dalam movie vs seperti itu tidak hanya menampilkan tokoh dari serial sebelumnya saja namun juga dari serial yang lebih lama seperti yang terjadi pada kamen rider Heisei Generation: Dr PAC Man vs Ex-AID and Ghost and legend rider yang menghadirkan 5 tokoh utama rider sampai dengan kamen rider EX-Aid pada 2016 yang lalu atau Heisei Generation Final: Bulid and Ex-aid with legend rider yang juga menampilkan bahkan tokoh dari serial yang lebih tua pada tahun 2017 yang lalu.
Pada film kali ini selain menampilkan Sougo Tokiwa (diperankan oleh So Okuno) dan kawan-kawan dari seri kamen rider Zi-O. Pada movie kali ini sejumlah tokoh favorit kita akan kembali diantaranya Atsuhiro Inukai akan kembali sebagai Sento Kiryu sang kamen rider Build ditemani oleh Eiji Akaso yang berperan sebagai Banjo Ryuga atau kamen rider Cross-z, Kohei Takeda sebagai Sawatari Kazumi si kamen rider Grease, Kaho Takada sebagai Misora Isurugi dan tak ketinggalan “pak kumis” Kensei Mikami sebagai Gentoku Himuro sang kamen rider Rough dari serial Kamen Rider Build yang mengudara tahun 2017-2018 kemarin. Selain itu film kali ini akan membawa kembali Takeru Satoh dan Kenjiro Ishimaru dari serial kamen rider Den-o. Film adalah film pertama Takero Satoh kembali menjadi Ryotaro Nogami sang kamen rider Den-o sejak kemunculan terakhirnya pada Saraba! Kamen Rider Den-O The Final Countdown pada 2008 yang lalu. Sebenarnya hampir semua aktor dalam perjalan 20 tahun masa Heisei rider ini kembali memerankan peran mereka walau hanya mengisi suara dari karakter rider mereka masing-masing. Sayang nya Joe Odagiri tidak bisa kembali berperan menjadi Yuuske Godai atau Kamen Rider Kuuga pada film ini karena suatu hal.
Film dimulai saat tiba-tiba pada tahun 2018 segerombolan Another Rider (nama monster di seri kamen rider Zi-O) menyerang Tokiwa Sougo yang entah kenapa lupa kalau dirinya adalah kamen rider Zi-O setelah akhirnya dia ingat Sougo akhirnya berubah melawan Another Rider tersebut yang ternyata adalah Another rider dari kamen rider Den-O bersama Geiz Myoukouin (diperankan oleh Gaku Yoshida) atau kamen rider Geiz akhirnya Sougo dapat memukul mundur Another Den-O tersebut. Di sisi lain di tengah kota, seorang anak bernama Shingo sedang dikejar-kejar oleh another rider dari kamen rider W secara tidak sengaja bertemu dengan Sento Kiryu dan Ryuga Banjo. Pada akhirnya Another W juga dapat dipukul mundur oleh Sento dan Banjo dibantu oleh Kazumi dan Gentoku yang secara aneh memperoleh ingatan mereka kembali. Hal ini aneh karena seharusnya reset Pandora box yang dilakukan oleh Kamen Rider Evolt (musuh utama kamen rider Build) menyebabkan semua orang lupa dengan kejadian kamen rider Build selain Sento dan Banjo. Sento akhirnya harus menyelidiki hal ini. Pada akhirnya terungkap kalau insiden ini disebabkan oleh Time Jacker (musuh utama Kamen Rider Zi-O) Tid yang berusaha mengubah sejarah dengan mencegah kelahiran Kamen Rider Kuuga yang merupakan Heisei rider pertama dan Shingo adalah seorang singular point menjadi penghalangnya. Singular Point sendiri adalah seseorang yang walaupun sejarah dirubah keberadaanya akan tetap ada dan tidak akan hilang. Ryotaro Nogami sang Kamen Rider Den-O juga seorang singular point nantinya akan kembali menyelamatkan Shingo. Hal semakin pelik dengan kemunculan Ataru, remaja misterius yang mengetahui identiitas para kamen rider.
Karena merupakan penutup era, Toei memang tak tanggung-tanggung menghadirkan semua nuansa nostalgia dalam film ini dibuktikan dengan berlimpah ruahnya easter egg yang ada dalam film ini. Kembalinya tokoh lama juga merupakan sebuah angin segar dalam film ini. Plot yang menarik serta eksekusi yang pas, tidak kekanak-kanakan namun juga pas ditonton anak-anak. Pesan moral yang sangat baik mengenai kehidupan, keputusan serta menghargai diri sendiri dan orang lain disampaikan dengan sangat baik melalui pembangunan cerita dan perilaku tokoh dan tidak terpusat pada dialognya saja. Dialognya memang terkesan biasa saja namun para aktor yang tampil dapat mengubahnya menjadi energi yang sangat baik sehingga tersampaikan dengan baik pada para penonton. Tak lupa special effect yang semakin berkembang membuat film ini menyuguhkan aksi-aksi yang sangat epik sepanjang film.
Sayangnya beberapa hal mengganggu tentu tidak dapat terhindarkan. Pemilihan lokasi set yang itu-itu saja pasti membuat para penonton bosan bahkan bagi kalangan rider fan sekaligus karena beberapa set lokasi memang biasa dipakai untuk serialnya. Easter egg memang merupakan hal yang bagus namun bagi penonton yang bukan merupakan rider fan tentu tidak akan menyadari hal ini dan membuatnya menjadi sia-sia. Yang terakhir, cerita pada film ini berinti pada Kamen Rider Kuuga sang Heisei rider yang pertama, namun karena absennya Joe Odagiri bahkan tidak satupun aktor dari serial kamen rider Kuuga yang kembali dalam film ini serta kemunculan wujud Kuuga yang hanya ada menjelang akhir film membuat keberadaanya sebagai inti cerita seolah menjadi sebuah pengalihan isu cerita saja padahal dia adalah inti cerita menyebabkan keberadaannya kurang mengena bagi para penonton.
Terakhir, bagi anda yang memang seorang fans seri kamen rider film ini memang harus anda tonton, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada dalam film ini, film ini sangat layak anda tonton. Gabungan cerita yang baik, aksi yang baik serta totalitas akting para aktor dan artis didalamnya terasa sangat cukup menutupi segala kekurangan dalam film ini. Bagi anda yang bukan fans kamen rider pun film ini cocok anda tonton dan tidak akan mengecewakan anda karena pesan moral yang disajikan sangat baik dan begitu asik saat ditonton bersama keluarga.
Yudha Setya Nugraha
]]>
Menjadi nomor 2 dalam hal apapun memang tidak terlalu menyenangkan. Anda akan selalu terbayangi oleh betapa superiornya si nomor 1. Kita harus lebih berusaha keras menaklukan sang bayangan. Untuk itu diam tidaklah ada gunanya, bekerja lebih keras adalah kuncinya.
Tidak terkecuali bagi CGV Cinemas. CGV Cinemas adalah brand bioskop di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 2008 silam, waktu itu namanya masih Blitz megaplex. Kini setelah berganti nama menjadi CGV Cinemas, popularitasnya semakin bertambah bahkan kini mulai menyaingi Grub 21 sebagai pemegang kekuasaan tertinggi bioskop di Indonesia. CGV Cinemas sendiri kini sudah memiliki 123 layar di 19 kota di seluruh Indonesia dan kini masih mengejar 1000 layar mereka untuk dapat benar-benar menyaingi grub 21 yang sudah mempunyai 923 layar di 168 kota di Indonesia. Perjalanan panjang dan berat yang masih harus ditempuh oleh CGV Cinemas.

CGV Cinemas terkenal dengan nuansa anak muda yang ditawarkan tidak heran bahwa bioskop yang satu ini lebih popular dikalangan siswa SMA sampai dengan mahasiswa. Konsep yang unik dan berbeda antara cabang satu dengan yang lainya adalah suatu yang menarik perhatian anak muda untuk datang. Tidak hanya sekedar menonton film namun juga menikmati yang apa saja tersaji didalamnya. Memang konsep CGV Cinema bukanlah sebuah tempat menonton film yang mempunyai tempat nongkrong didalamnya, namun kebalikannya mereka berkonsep tempat nongkrong yang terdapat tempat untuk menonton film didalamnya. Maka tidak heran bila di beberapa cabangnya terdapat lapangan basket, lapangan futsal, coffe shop bahkan sampai mini library untuk memuaskan pengunjungnya.

Tidak hanya itu mereka juga mempunyai banyak inovasi dalam hal bioskop dimana mereka tidak hanya menjual pengalaman menonton bioskop konvensional saja namun memberikan pengalaman baru bagi pengunjungan dengan berbagai hal baru yang ditawarkan. Contohnya seperti Couple seat, red velvet room, screen X, 4D X, Gold Class dan Satin Class. Yang tentunya akan memberikan pengalaman baru dalam menonton film, seperti bagaimana rasanya kalau anda berada di tengah-tengah film dan ikut menjadi tokoh didalamnya melalui screen X. Akan menjadi pengalaman yang mengagumkan tentunya.
Senjata terakhir CGV Cinema adalah pilihan film yang lebih beragam daripada kompetitor lainya. Karena saham CGV Cinema sendiri dipegang oleh CG Grub dari Korea maka tidak heran bahwa film korea dan asia lainnya sering ditanyangan oleh CGV Cinemas. Tidak hanya itu pilihan film CGV juga melebar hingga ke genre yang bahkan peminatnya sangat terbatas seperti anime Jepang sudah sangat sering ditayangkan oleh CGV Cinemas.
Terakhir. CGV Cinemas yang sedang berkembang dengan hebatnya ini masih mempunyai banyak target dan tujuan yang masih belum tercapai. Namun posisinya sekarang yang menjadi nomor 2 di kancah perbioskopan di Indonesia dengan segala perkembangan dan inovasi yang dilakukan maka tidak heran kalau tempat nongkrong yang ada bioskopnya ini populer dikalangan anak muda. Maka jangan ragu kalau anda mau mengajak keluarga anda, pacar, teman atau musuh anda untuk datang ke CGV Cinemas.

Yudha Setya Nugraha .
Plot yang menarik, adegan terasa penuh dan baru dalam film yang total hampir mencapi dua jam tersebut. Karakter pemain sangat kuat dengan latar tahun 80an yang energik dan kaku saat berbicara, menunjukan tata krama yang pekat pada masa itu. Kostum yang digunakan juga sangat menunjang karakter para pemain film ini, sayangnya, gaya rambut yang digunakan oleh Tony (adik Rini) dan Hendra (teman Rini) terlihat memaksa. Akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi ‘keseraman’ dalam film pengabdi setan. Hantu-hantu ditampilkan tidak secara ‘murahan’ seperti pada film horor Indonesia masa kini sebelumnya. Diakhiri dengan twist yang membuat perdebatan diantara penonton, akankah film ini menjadi film sekuel atau tidak.
Nah, mungkin udah sopiler dikit kali ya? Semoga dari ulasan singkat ini, tidak mengurangi rasa penasaran akan film pengabdi setan dan tetap menonton film ini di bioskop-bioskop kesayangan kamu. Ajak teman, keluarga, pacar, sahabat, gebetan, mantan, atau apa lah ya yang kamu punya. Gak perlu nunggu yang di warnet, bajakan, atau munculnya di televisi. Tontonlah sekarang kalau kamu ada waktu, itung-itung bentuk penghargaan pada sineas Indonesia, oiya jangan bikin merekam film pada saat nonton, terus di upload ke instastory atau snapchat ya! Akhir kata, Hidup Film Indonesia! [AD]
]]>Dari kanan ke kiri : Franciscus Apriwan (Programmer), Ukky Satya (Competition Coordinator), Ayu Diyah Cempaka (Program Coordinator), Henricus Pria (Masterclass Coordinator)
Tahun ini FFD akan dilaksanakan dari tanggal 7 hingga 12 Desember 2015 di komplek Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan IFI-LIP. FFD kali ini mengusung tema besar “Re-Defining”yang bermakna bahwa sekarang banyak sekali orang-orang sebagai individu mempertanyakan perkara identitas diri. Maka, tema tersebut diambil untuk dijadikan sebagai refleksi untuk menemukanapa yang di cari.
FFD yang ke 14 ini memiliki dua program yang sangat special dan menarik, yakni program kompetisi dimana tahun ini animo masyarakat sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan jumlah entry film terbanyak selama 14 tahun festival ini berjalan, yakni 133 film dengan rincian 11 film kategori panjang, 96 film kategori pendek, dan 26 kategori pelajar yang diseleksi oleh juri-juri hebat dari berbagai belahan dunia. Kemudian untuk program non kompetisi, ada program perspektif, program spectrum yang dibuat untuk mengapresiasi film-film menarik di luar pakem film documenter. Selain itu, ada pemutaran film-film dari belahan dunia dan tentunya menarik seperti Docu Francais, Thai Docs, Korean Youth Docs, dan Asian Docs.
Lalu, ada program lain yang dilangsungkan di FFD yakni program Masterclass yang terbagi menjadi 2, Good Pitch :Create, Connect, and Change serta Docs in Progress. Good Pitch :Create, Connect, and Change merupakan seminar dan diskusi mengenai good pitch yang bekerjasama dengan In-docs Jakarta dan Britdoc dari Inggris. Seminar tersebut akan diisi oleh Elise Mc Cave (Deputy Director of BRITDOC) di Auditorium IFI/LIP Yogyakarta (Jalan Sagan, Gondokusuman) pada 8 Desember 2015. Sedangkan, Program Docs in Progress merupakan program untuk menambah wawasan para filmmaker Indonesia dan akan dilaksanakan pada 8-11 Desember 2015 di Tembi Rumah Budaya. (NP)